Adios Efrata

on Wednesday, February 25, 2009


Hari ini gua baru aja ngirim hasil video efrata ke Haci di Malang.
Video itu untuk merayakan hari lahir Efrata yang ke 10. Video berdurasi 40 menit itu ide gua sendiri, gua yang produser, gua yang jadi sutradara, kameramennya juga gua, skrip gua yang tulis dan gua yang edit. Tapi gua sengaja nggak muncul di Video itu, supaya nggak terlalu gua-centris banget. Yah itu memang gua persembahin sebagai kado (semoga bukan) yang terakhir buat Efrata. Tempat gua bertumbuh dan merasakan suatu komunitas yang luarbiasa.

Gua nggak mau bahas video itu, tapi mau bahas tentang tutup buku gua dengan Efrata. *Hiks Hiks*. Yup dengan selesainya Video itu gua edit, jadi sudah tidak ada lagi hubungan gua secara langsung dengan Efrata. Selesai sudah. Benar-benar selesai. (Kecuali masalah beasiswa Efrata, program yang gua cetusin juga).
Gua sekarang sudah punya keluarga baru, komunitas baru dan tempat pelayanan yang baru. Tempat yang Tuhan tunjukkan ke gua, untuk belajar dan bertumbuh.

Terakhir gua meninggalkan Efrata dan Malang itu gua benar-benar bersyukur banget, gua tidak menangis (karena puyeng handicamnya Irvan mendadak rusak in the last day). Waktu di Malang sebelum gua balik ke Jakarta, gua terus memikirkan gimana menghadapi menit terakhir gua di Malang.

Gila! Kota itu seperti segalanya buat gua. Setiap jalan disitu punya kenangan tersendiri. Dimana gua naik motor ujan-ujanan, dimana gua nyerempet mobil, dimana gua ketilang, dimana gua jalan sama anak-anak. Semua tikungan jalan menjadi saksi bahwa untuk pertama kalinya di bumi, ada Jerapah bisa naik sepeda motor (keajaiban itu nyata!). Lima Tahun Lebih gua menghirup udara kota Malang, buang jahat disana, menumpahkan iler dan melepas gas beracun.

Dan Efrata... sudah tidak ada kata lagi buat Efrata. Efrata adalah segalanya buat gua. Kehilangan atau pergi dari Efrata seperti Romeo meninggalkan Juliet, seperti Michael Jordan pensiun dari NBA, Zidane keluar dari timnas perancis dan seperti Spongebob dideportasi dari bikini bottom. Menyedihkan.

Tapi gua pergi dari Efrata dengan rasa bangga, ya gua tahu Efrata masih penuh dengan masalah, tapi gua pergi dari Efrata dengan telah mengerjakan tugas gua dengan baik. Tuhan memakai gua secara luar biasa di Efrata. Di Efrata gua menjadi adik, menjadi kakak, menjadi pelajar, menjadi guru, gua menjadi pelayan, pendoa, pembangkit semangat, pemberi nasehat, pengubah hidup seseorang, gua menjadi pengkotbah, tukang cat, menjadi pemerhati, video editor, menjadi tukang bersih-bersih, gua menjadi designer, gua menjadi pengantar, tukang foto, cameraman, menjadi pembantu, gua menjadi sekretaris, wartawan, penghibur, menjadi pemimpin, gua menjadi tempat sharing, menjadi penari dan gua menjadi penyanyi (dalam hati).

Efrata menjadi berarti buat gua karena melalui Efrata Tuhan membuat diri gua jadi berarti.

Ada tiga kata yang diberikan anak-anak Efrata waktu gua pergi. “We Love You”.
Tiga kata yang sangat menyentuh gua, Efrata sudah memberikan banyak buat gua. Dan kata-kata itu membuat semuanya meluap, daya tampung gua menjadi terlalu kecil dan seperti semuanya tertumpah dengan air mata haru. Terima kasih juga untuk air mata perpisahan yang terjatuh, tangan yang melambai, senyum yang mengembang, ucapan pemberi semangat dan pelukan hangat perpisahan. Oh betapa gua membenci perpisahan! Oya terima kasih juga untuk boneka-boneka, buku-buku, kaos dan VCD Hillsong yang membuat tas gua jadi nggak muat. Semua barang pemberian kalian akan menjadi barang berharga gua.

Selamat tinggal Efrata. Semoga kita bisa bertemu lagi di bumi. Dan pastinya kita akan bertemu di rumah Bapa di surga. Mari kita populerkan lagu ‘selamat datang’ juga game ‘chop choli chop’ juga ‘Whuz’ dan salam-ulat-bulu di surga nanti. Oce.